26/04/2013 • Posted in Review, Updates by East Conspiracy

Knee & Toes “Dammit I’m Mad”

Knee & Toes "Dammit I'm Mad"
Knee & Toes

Dammit I’m Mad

(Minor Cubes Records)

Sebelumnya saya sama sekali kurang tahu apa itu Knee & Toes, musiknya bagaimana, itu band mana, sama sekali saya belum pernah mengetahuinya. Justru saya baru mengetahui mereka ketika membaca kabar burung yang beredar di linimasa. Kabar yang saya baca ialah ada salah satu band Malang yang telah melakukan tur ke Inggris pada pertengahan tahun 2011, tepatnya Juni hingga September dengan bermain di 30 tempat. Kebetulan saya salah satu pengagum band-band Malang, diluar scene undergroundnya yang terbilang cukup punya good taste and out of the box dalam memiliki referensi musik. Ketika saya tahu kabar burung itu, saya langsung mencari tahu siapa itu Knee and Toes dan mulai mendengarkan lagunya. Ketika saya melihat foto mereka dan mendengarkan lagunya, terpintas saya langsung teringat akan duo musisi asal Jakarta, Endah N Rhesa. Jenis musik ‘hampir’ sama namun pembedanya ialah, Endah N Rhesa tampil dengan Endah sebagai front vokal dan Rhesa memainkan Bass, sedangkan Knee & Toes tampil dengan dua vokal Risti dan Bie yang memainkan gitar steel dan gitar nylon. Sudah jelas bahwa disini mereka tidak sama, memiliki karakter masing-masing dan yang pastinya mereka bisa syahdu tanpa harus jadi melayu.

Eksistensi Knee & Toes mulai terkukuhkan dengan dirilisnya album mereka “Dammit I’m Mad” pada Desember tahun 2012. Mereka menampilkan artwork album yang menampilkan sisi kanak-kanak, terdapat seperti gambar bis khas Inggris dan dua tokoh kartun seakan menjadi hal yang ingin mereka sampaikan di album ini. Nuansa kecoklatan dan kehijauan yang terkesan vintage, seperti menggambarkan nuansa musik Knee & Toes yang sederhana, hangat, nyaman, dan menenangkan. Album ini hadir dengan memiliki durasi empat puluh menit, sebagai musik pembuka, “Intro” akan membawa kita ke tempat lain dimana Knee & Toes menciptakan panggungnya sendiri dalam album ini. Pendengar disapa dengan lagu “Phone Call” yang riang lalu lanjut dengan “Morwening” dimana terdapat suara dua sahabat mereka, Simon & Sharon Wilsonturut serta menyumbangkan suara dalam beberapa bagian lagunya. Suara khas The London Underground dalam lagu “A Journey” menggambarkan suasana perjalanan yang Knee & Toes alami, lalu diikuti oleh “Explore The Baker St.” yang menceritakan petualangan yang mendebarkan ala detektif. Pada lagu keenam, Knee & Toes memberi kejutan di lagu “Rumah”, dengan mengajak salah satu violis, Vania Wibisono untuk turut serta menggesek dawai biolanya. Knee & Toes mulai menghadirkan nuansa asing dengan interludenya pada lagu “Life is A Playground”. Alunan nada gitar klasik begitu terasa dalam lagu “Time Capsule”, rupanya dentingan tersebut dimainkan oleh Bayu Priaganda, diiringi bass dari  Ahot Graharizkyka. Kejutan juga mereka berikan pada lagu “Golden & Diamond”, terasa komposisi yang berbeda dari kebanyakan lagu Knee & Toes, petikan bass Ahot Graharizkyka cukup memanjakan telinga saya. Lagu “Lullaby” didendangkan sebagai pengantar akhir dari album ini, “Man In The Moon” hadir sebagai lagu penutup sembari “Outro” yang menyambut hangat selesainya trek di album ini.
-@propagendhy-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>